Hukum Mendoakan Orang Bukan Islam
Terdapat
empat keadaan adakah boleh kita mendoakan kepada orang bukan Islam?
Perkara-perkara
tersebut adalah seperti berikut :
PERTAMA:
Mendoakan agar mereka mendapatkan hidayah.
Para
Ulama telah sepakat (Ijma’) akan bolehnya hal ini, diantara dalilnya adalah
hadits berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَدِمَ الطُّفَيْلُ وَأَصْحَابُهُ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ دَوْسًا قَدْ كَفَرَتْ وَأَبَتْ، فَادْعُ اللَّهَ عَلَيْهَا! فَقِيلَ: هَلَكَتْ دَوْسٌ! فَقَالَ: اللَّهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَائْتِ بِهِمْ!ـ
Abu
Hurairah -radliallahu anhu- mengatakan: (Suatu hari) At-Thufail dan para sahabatnya
datang, mereka mengatakan: “ya Rasulullah, Kabilah Daus benar-benar telah kufur
dan menolak (dakwah Islam), maka doakanlah keburukan untuk mereka! Maka ada yg
mengatakan: “Mampuslah kabilah Daus”. Lalu baginda mengatakan: “Ya Allah,
berikanlah hidayah kepada Kabilah Daus, dan datangkanlah mereka (kepadaku).
(HR. Bukhari 2937 dan Muslim 2524, dg redaksi dari Imam Muslim)
Hadits
berikut juga menunjukkan bolehnya mendoakan agar mereka mendapatkan hidayah:
عَنْ أَبِي مُوسَى رضي الله عنه، قَالَ: كَانَ الْيَهُودُ يَتَعَاطَسُونَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُونَ أَنْ يَقُولَ لَهُمْ يَرْحَمُكُم اللَّهُ، فَيَقُولُ: يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ
Abu Musa -radliallahu anhu-
mengatakan: “Dahulu Kaum Yahudi biasa berpura-pura bersin di dekat Nabi
-Shallallahu Alaihi Wasallam-, mereka berharap baginda mahu mengucapkan doa
untuk mereka “yarhamukallah (semoga Allah merahmati kalian)”, maka baginda
mengatakan doa: “yahdikumullah wa yushlihabalakum (semoga Allah memberi hidayah
kepada kalian, dan memperbaiki keadaan kalian)” (HR. Tirmidzi 2739 , dan yg
lainnya, dishohihkan oleh Syeikh Albani)
KEDUA: Mendoakan kebaikan dalam perkara dunia.
KEDUA: Mendoakan kebaikan dalam perkara dunia.
Hal ini dibolehkan kerana adanya contoh dari Rasulullah
-Shallallahu Alaihi Wasallam-… lihatlah dalam hadis di atas, baginda mendoakan
kepada Kaum Yahudi:
يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ
“Semoga
Allah memberi kalian hidayah, dan memperbaiki keadaan kalian”
Ada
juga ikrar (persetujuan) Rasulullah –Shallallahu Alaihi Wasallam– dalam hal
ini:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ قَالَ: بَعَثَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَرِيَّةٍ فَنَزَلْنَا بِقَوْمٍ، فَسَأَلْنَاهُمُ القِرَى فَلَمْ يَقْرُونَا، فَلُدِغَ سَيِّدُهُمْ فَأَتَوْنَا فَقَالُوا: هَلْ فِيكُمْ مَنْ يَرْقِي مِنَ العَقْرَبِ؟ قُلْتُ: نَعَمْ أَنَا، وَلَكِنْ لاَ أَرْقِيهِ حَتَّى تُعْطُونَا غَنَمًا، قَالُوا: فَإِنَّا نُعْطِيكُمْ ثَلاَثِينَ شَاةً، فَقَبِلْنَا فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ: الحَمْدُ لِلَّهِ سَبْعَ مَرَّاتٍ، فَبَرَأَ وَقَبَضْنَا الغَنَمَ، قَالَ: فَعَرَضَ فِي أَنْفُسِنَا مِنْهَا شَيْءٌ فَقُلْنَا: لاَ تَعْجَلُوا حَتَّى تَأْتُوا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلَيْهِ ذَكَرْتُ لَهُ الَّذِي صَنَعْتُ، قَالَ: وَمَا عَلِمْتَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ؟ اقْبِضُوا الغَنَمَ وَاضْرِبُوا لِي مَعَكُمْ بِسَهْمٍ
Abu
Said al-Khudri mengatakan: (Suatu saat) Rasulullah -Shallallahu Alaihi
Wasallam- menugaskan kami dalam Sariyyah (pasukan kecil), lalu kami singgah di
suatu kaum, dan kami meminta mereka agar menjamu kami tapi mereka menolaknya.
Lalu pemimpin mereka terkena sengatan haiwan, maka mereka mendatangi kami, dan
mengatakan: “Adakah diantara kalian yg boleh meruqyah sakit kerana sengatan
Kalajengking?”. Maka ku jawab: “Ya, aku boleh, tapi aku tidak akan meruqyahnya
kecuali kalian memberi kami kambing”. Mereka mengatakan: “Kami akan memberikan
30 kambing kepada kalian”. Maka kami menerima tawaran itu, dan aku bacakan
kepada (pemimpin)nya surat Alhamdulilah sebanyak 7 kali, maka ia pun sembuh,
dan kami terima imbalan (30) kambing.
Abu Sa’id mengatakan: Lalu
ada sesuatu yg mengganjal di hati kami (dari langkah ini), maka kami
mengatakan: “Jangan tergesa-gesa (dengan upah kambing ini), sampai kalian
mendatangi Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam-.
Abu sa’id mengatakan: Maka ketika kami mendatangi baginda, aku menyebutkan apa yg telah kulakukan. Baginda mengatakan: “Dari mana kau tahu, bahawa (Alfatihah) itu Ruqyah?, ambillah kambingnya dan berilah aku bagian darinya”. (HR. Tirmidzi [2063] dengan redaksi ini, kisah ini juga diriwayatkan di dalam shahih Bukhari [2276] dan shahih Muslim [2201]).
Abu sa’id mengatakan: Maka ketika kami mendatangi baginda, aku menyebutkan apa yg telah kulakukan. Baginda mengatakan: “Dari mana kau tahu, bahawa (Alfatihah) itu Ruqyah?, ambillah kambingnya dan berilah aku bagian darinya”. (HR. Tirmidzi [2063] dengan redaksi ini, kisah ini juga diriwayatkan di dalam shahih Bukhari [2276] dan shahih Muslim [2201]).
Hadits
ini menjelaskan bolehnya kita me-ruqyah orang kafir agar sakitnya sembuh, dan
ini merupakan bentuk dari tindakan mendoakan kebaikan untuk mereka dalam urusan
dunia. Tidak salah kita mendoakan kesembuhan mereka jika mereka sakit.
Diantara
dalil dalam masalah ini adalah dibolehkannya kita menjawab salamnya orang
kafir, walaupun bolehnya hanya seringkas “wa’alaikum“, sebagaimana sabda Nabi
–Shallallahu Alaihi Wasallam-:
إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الكِتَابِ فَقُولُوا: وَعَلَيْكُمْ
“Jika
seorang Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) mengucapkan salam kepada kalian, maka
jawablah dengan ucapan: “Wa’alaikum“. (HR. Bukhari [5788], dan Muslim [4024]).
Ada
juga contoh dari salah seorang Sahabat Nabi dalam masalah ini:
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ الْجُهَنِيِّ: أَنَّهُ مَرَّ بِرَجُلٍ هَيْئَتُهُ هَيْئَةُ مُسْلِمٍ، فَسَلَّمَ فَرَدَّ عَلَيْهِ: وَعَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. فَقَالَ لَهُ الْغُلَامُ: إِنَّهُ نَصْرَانِيٌّ! فَقَامَ عُقْبَةُ فَتَبِعَهُ حَتَّى أَدْرَكَهُ. فَقَالَ: إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ وَبَرَكَاتَهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ، لَكِنْ أَطَالَ اللَّهُ حَيَاتَكَ، وَأَكْثَرَ مالك، وولدك
Uqbah
bin Amir al-Juhani -radhiallahu anhu- menceritakan: bahawa dia pernah
berpapasan dengan seseorang yang gayanya seperti muslim, lalu orang tersebut
memberi salam kepadanya, maka ia pun menjawabnya dengan ucapan: “wa’alaika wa
rahmatullah wabarakatuh”… Maka pelayannya mengatakan padanya: Dia itu seorang
Nasrani!… Lalu Uqbah pun beranjak dan mengikutinya hingga ia mendapatkannya, maka
ia mengatakan: “Sesungguhnya rahmat dan berkah Allah itu untuk Kaum Mukminin,
akan tetapi semoga Allah memanjangkan umurmu, dan memperbanyak harta dan
anakmu” (HR. Bukhori dalam kitabnya Adabul Mufrod 1/430, dan dihasankan oleh
Syeikh Albani)
Banyak
ulama yg memberi batasan: bahwa orang kafir yg didoakan kebaikan, harus bukan
dalam kategori kafir harbi (yakni kafir yg memerangi Kaum Muslimin)… Dan ini
sangatlah tepat… Syeikh Albani -rahimahullah- mengatakan:
ولكن لا بد أن يلاحظ الداعي أن لا يكون الكافر عدواً للمسلمين
Akan
tetapi, orang yg mendoakan kebaikan harus memperhatikan, bahawa orang kafir
tersebut bukanlah musuh (perang) bagi Kaum Muslimin. (Ta’liq Kitab Adab Mufrod
1/430).
KETIGA:
Mendoakan agar dosa mereka diampuni, setelah mereka mati dalam keadaan kafir.
Para
ulama telah sepakat (Ijma’) bahawa hal ini diharamkan:
قال النووي رحمه الله : وأما الصلاة على الكافر والدعاء له بالمغفرة فحرام بنص القرآن والإجماع
Imam
Nawawi -rahimahullah- mengatakan: “Adapun menyolati orang kafir, dan mendoakan
agar diampuni dosanya, maka ini merupakan perbuatan haram, berdasarkan nas
al-Quran dan Ijma’. (al-Majmu’ 5/120).
وقال ابن تيمية رحمه الله: إن الاستغفار للكفار لا يجوز بالكتاب والسنَّة والإجماع
Ibnu
Taimiyah -rahimahullah- juga mengatakan: Sesungguhnya memintakan maghfiroh
untuk orang-orang kafir tidak dibolehkan, berdasarkan Al-Qur’an, Hadits, dan
Ijma’. (Majmu’ul Fatawa 12/489)
Dan
dalil paling tegas dalam masalah ini adalah firman Allah Ta’ala:
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
Maksudnya,
“Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun
(kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu
adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang
musyrik itu adalah penghuni (neraka) Jahim.” (Surah at-Taubah ayat 113)
KEEMPAT:
Mendoakan agar diampuni dosanya ketika mereka masih hidup.
Hal
ini dibolehkan dengan Dalil hadits berikut:
قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بن مسعود: كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْكِي نَبِيًّا مِنْ الْأَنْبِيَاءِ ضَرَبَهُ قَوْمُهُ فَأَدْمَوْهُ وَهُوَ يَمْسَحُ الدَّمَ عَنْ وَجْهِهِ وَيَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
Abdullah
bin Mas’ud mengatakan: “Seakan-akan aku sekarang melihat Nabi -Shallallahu
Alaihi Wasallam- bercerita tentang seorang Nabi, yang dipukul oleh kaumnya
hingga bercucur darah, dan ia mengusap darah tersebut dari wajahnya, tetapi ia
tetap mengatakan: “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka itu
tidak tahu”. (HR. Bukhori 3477).
Memang
Hadis ini tidak tegas mengatakan bahawa Nabi yang mendoakan ampunan tersebut
adalah Nabi Muhammad –Shallallahu Alaihi Wasallam-… Namun ada riwayat lain yg
tegas mengatakan bahawa doa tersebut juga diucapkan oleh Nabi kita Muhammad
–Shallallahu Alaihi Wasallam– kepada kaumnya yg masih kafir:
عن سهل بن سعد قال: شهدت النبي – صلى الله عليه وسلم – حين كُسِرت رباعِيتُهُ وجُرح وجهه وهُشمت البيضة على رأسه، وإني لأعرف من يغسل الدم عن وجهه، ومن ينقل عليه الماء، وماذا جعل على جرحه حتى رقأ الدم؛ كانت فاطمة بنت محمد رسول الله – صلى الله عليه وسلم – له تغسل الدم عن وجهه، وعلي- رضي الله عنه- ينقل الماء إليها في مِجنَّةٍ، فلما غسلت الدم عن وجه أبيها أحرقت حصيراً، حتى إذا صارت رماداً أخذت من ذلك الرماد، فوضعته على وجهه حتى رقأ الدم، ثم قال يومئذ: اشتد غضب الله على قوم كلموا وجه رسول الله – صلى الله عليه وسلم. ثم مكث ساعة، ثم قال: اللهم! اغفر لقومي؛ فإنهم لا يعلمون
Sahal
bin sa’ad mengatakan: Aku telah menyaksikan Nabi -Shallallahu Alaihi Wasallam-
saat gigi serinya patah, wajahnya terluka, dan helm perang di kepalanya pecah…
sungguh aku juga tahu siapa yg mencuci darah dari wajahnya, siapa yang
mendatangkan air kepadanya, dan apa yang ditempatkan dilukanya hingga darahnya
mampet… Adalah Fatimah puteri Muhammad utusan Allah yang mencuci darah dari
wajah, dan Ali -radliallahu anhu- yang mendatangkan air dalam perisai… maka
ketika Fatimah mencuci darah dari wajah ayahnya, dia membakar tikar, sehingga
ketika telah menjadi abu, ia mengambil abu itu, lalu menaruhnya di wajah
baginda, hingga darahnya mampet… ketika itu baginda mengatakan: “Telah memuncak
kemurkaan Allah atas kaum yang melukai wajah Rasulullah”… lalu baginda diam
sebentar, dan mengatakan: “Ya Allah ampunilah kaumku, kerana sesungguhnya
mereka itu tidak tahu”. (HR. Tobaroni, dan Syeikh Albani dalam Silsilah
Shohihah [7/531] mengatakan: Sanadnya Hasan atau Shohih).
Diantara
dalil dalam masalah ini adalah Mafhum Mukholafah dari firman Allah berikut:
مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ (*) وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ
Tidak
sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada
Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum
kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu
adalah penghuni (neraka) jahim. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada
Allah) untuk bapanya, tidak lain hanyalah kerana suatu janji yang telah
diikrarkannya kepada bapanya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahawa
bapanya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya.
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.
(Surah at-Taubah ayat 113-114)
Ayat
ini mengaitkan “larangan memintakan ampun untuk Kaum Musyrikin”, dengan keadaan
“sesudah jelas bagi mereka bahawa orang-orang musyrik itu adalah penghuni
neraka”. Sehingga sebelum jelas menjadi penghuni neraka, boleh di mintakan
ampun… Dan telah shohih dari Ibnu Abbas, bahawa maksud dari firman Allah yg
ertinya: “Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapanya itu adalah musuh
Allah” adalah “setelah mati dalam keadaan kufur”. Sehingga sebelum kematiannya,
masih boleh dimintakan ampun.
Berikut
Atsar dari Ibnu Abbas tersebut:
عن سعيد بن جبير قال : توفى أبو رجل ، وكان يهوديا ، فلم يتبعه ابنه ، فذكر ذلك لابن عباس ، فقال ابن عباس : وما عليه، لو غسله ، واتبعه ، واستغفر له ما كان حيا… ثم قرأ ابن عباس (فلما تبين له أنه عدو لله تبرأ منه) * يقول : لما مات على كفره
Sa’id
bin Jubair mengatakan: Ada salah seorang ayah meninggal, dan dia seorang
Yahudi, sehingga putranya (yang muslim) tidak mengikuti (jenazah)nya, lalu hal
itu diceritakan kepada Ibnu Abbas, maka beliau mengatakan: “Tidak sepatutnya ia
melakukannya, (alangkah baiknya) apabila ia memandikannya, mengikuti
(jenazah)nya, dan memintakan ampun baginya ketika masih hidup… kemudian Ibnu
Abbas membaca ayat (yg artinya): “Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa
bapanya itu adalah musuh Allah, ia pun berlepas diri darinya”, maksudnya:
“ketika ia mati dalam keadaan kafir”. (Mushonnaf Abdurrozzaq 6/39).
Dan
kesimpulan bolehnya memintakan ampun bagi orang-orang kafir selama masih hidup
ini, juga banyak dinyatakan oleh para ulama, diantaranya:
Imam
At-Thobari –rohimahulloh-, beliau mengatakan dalam tafsirnya:
وقد تأول قوم قول الله: {ما كان للنبي والذين آمنوا أن يستغفروا للمشركين ولو كانوا أولى قربى}… الآية، أن النهي من الله عن الاستغفار للمشركين بعد مماتهم، لقوله: {من بعد ما تبين لهم أنهم أصحاب الجحيم} وقالوا: ذلك لا يتبينه أحد إلا بأن يموت على كفره، وأما هو حي فلا سبيل إلى علم ذلك، فللمؤمنين أن يستغفروا لهم
Sekelompok
ulama’ telah menafsiri firman Allah (yg ertinya): Tidak sepatutnya bagi Nabi
dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang
musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya)… -hingga
akhir ayat-; bahawa larangan dari Allah untuk memintakan ampun bagi kaum
musyrikin adalah setelah matinya mereka (dalam keadaan kafir), kerana
firman-Nya (yg ertinya): “sesudah jelas bagi mereka, bahawasanya orang-orang
musyrik itu adalah penghuni (neraka) jahim”. Mereka mengatakan: “alasannya,
kerana tidak ada yg boleh memastikan (bahawa dia ahli neraka), kecuali setelah
ia mati dalam kekafirannya, adapun saat ia masih hidup, maka tidak ada yang
boleh mengetahui hal itu, sehingga dibolehkan bagi Kaum Mukminin untuk
memintakan ampun bagi mereka. (Tafsir Thobari 12/26)
Dan
inilah pendapat yg dipilih oleh beliau dalam tafsirnya. (lihat Tafsir Thobari
12/28)
Imam
Al-Qurtubi juga mengatakan dalam tafsirnya:
وَقَدْ قَالَ كَثِيرٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ: لَا بَأْسَ أَنْ يَدْعُوَ الرَّجُلُ لِأَبَوَيْهِ الْكَافِرَيْنِ وَيَسْتَغْفِرَ لَهُمَا مَا دَامَا حَيَّيْنِ. فَأَمَّا مَنْ مَاتَ فَقَدِ انْقَطَعَ عَنْهُ الرَّجَاءُ فَلَا يُدْعَى لَهُ. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: كَانُوا يَسْتَغْفِرُونَ لِمَوْتَاهُمْ فَنَزَلَتْ فَأَمْسَكُوا عَنِ الِاسْتِغْفَارِ وَلَمْ يَنْهَهُمْ أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْأَحْيَاءِ حَتَّى يَمُوتُوا
Banyak
ulama mengatakan: “Tidak mengapa bagi seorang (muslim) mendoakan kedua orang
tuanya yg kafir, dan memintakan ampun bagi keduanya selama mereka masih hidup.
Adapun orang yg sudah meninggal, maka telah terputus harapan (untuk diampuni
dosanya). Ibnu Abbas mengatakan: “Dahulu orang-orang memintakan ampun untuk
orang-orang mati mereka, lalu turunlah ayat, maka mereka berhenti dari
memintakan ampun. Namun mereka tidak dilarang untuk memintakan ampun bagi
orang-orang yg masih hidup hingga mereka meninggal”. (Tafsir Qurtubi 10/400)
Inilah
pendapat paling kuat dalam masalah ini, kerana bersandarkan dalil dari
Al-Qur’an, Hadits, dan Perkataan Shahabat… Kerana banyak dari kalangan ulama,
memilih pendapat ini… Namun ada dua hal yg perlu digaris bawahi di sini:
– Bahwa yg lebih afdhol
adalah mendoakan orang yg kafir agar diberikan hidayah masuk Islam… Kerana
inilah yang sering dilakukan oleh Nabi –Shallallahu Alaihi Wasallam-, dan
inilah yg telah disepakati bolehnya oleh para ulama.
– Ampunan yg sempurna tidak akan diberikan kepada orang kafir, selama dia masih kafir… Sehingga erti dari doa meminta ampunan untuk mereka adalah: ampunan dari sebagian dosa selain kesyirikan dan kekafirannya, atau ampunan untuk semua dosanya dengan jalan diberi hidayah dahulu untuk masuk Islam.
– Ampunan yg sempurna tidak akan diberikan kepada orang kafir, selama dia masih kafir… Sehingga erti dari doa meminta ampunan untuk mereka adalah: ampunan dari sebagian dosa selain kesyirikan dan kekafirannya, atau ampunan untuk semua dosanya dengan jalan diberi hidayah dahulu untuk masuk Islam.
Sekian…
wallahu Ta’ala a’lam…
Sumber
: islamituindah